SELAMAT DATANG DI BLOG AGUPENA PEKALONGAN

Minggu, 31 Oktober 2010

SEUNTAI KALUNG EMAS

Posted by AGUPENA Pekalongan on 01.31 1 komentar

Wati menangis terisak. Melihat itu, semua temannya bingung. Mereka tidak tahu duduk persoalannya, kenapa siang itu Wati menangis di dalam kelas? Itu sebabnya, Rina, teman duduk sebangkunya dengan lirih bertanya.

“Kenapa kau tiba-tiba menangis, Wat?”mata Rina menatapWati dengan teduh. “Apakah perutmu sakit?”sambung Rina lagi masih dengan suara lirih.
Wati menggeleng. Isaknya belum terhenti.

“Lalu, kenapa engkau mesti terus menangis begitu?”Rina masih penasaran melihat temannya bertingkah demikian.

“Kalung, kalung…..,”Wati berucap sendat di sela-sela isaknya.

“Kenapa kalungmu, Wat?”mata Rina memperhatikan leher Wati dengan kening sedikit berkerut.
Seraya masih terisak,Wati menjawab,”Kalung saya hilang, Rina,”adu anak itu sesaat setelah mengangkat mukanya memandangi Rina.

“Hah…? Kalungmu hilang, Wat?”seru Rina setengah tak percaya. Wati mengangguk, mengiyakan.

“Kiranya di mana kalungmu itu hilang, Wat?”selidik teman sebangkunya itu ingin segera mengerti.
Sembari menggeleng, Wati menjawab,”Entahlah. Aku baru merasakan kalau kalungku itu hilang belum lama ini, Rin.”

“Barangkali,”sahut Rina memancing. “Kalungmu lepas saat kita bermain bola kasti di lapangan sekolah tadi, Wat?”

“Mungkin saja dugaanmu benar, Rina,”sahut Wati lirih. “Bukankah tadi kita baru saja berolahraga di sana?”
Rina mengangguk, membenarkan. Sementara itu, Pak Gito, guru olahraga mereka masuk ke dalam kelas.

“Ribut-ribut ada apa, Rina? Tampaknya ada sesuatu yang kalian cari?”mata Pak Gito menangkap gelagat tak beres pada Rina dan Wati.

“Anu, Pak…..,”jawab Rina agak canggung.

“Anu apa?”tanya Pak Gito.

“Wati menangis, Pak.”

“Kenapa Wati menangis?”desak Pak Guru muda yang berkumis tipis itu ingin tahu.

“Kalung, kalungWati hilang, Pak.”

“Apa………? Kalung Wati hilang?”mata Pak Gito sedikit terbelalak. Kaget.

“Benar, Pak!”sahut Wati lirih. Meyakinkan.

“Kapan hal itu terjadi, Wat?”pandangan Pak Gito lurus-lurus ke arah Wati.

“Barangkali tadi, ketika kita berolahraga di lapangan sekolah, Pak,”jawab Rina mewakili Wati. Mendengar jawaban Rina tadi, sesaat Pak Gito diam untuk mengolah pikir. Tak lama dari itu, beliau pun berkata,”Sudahlah jangan menangis terus begitu, Wat! Kita cari kalungmu itu di lapangan.”
Wati diam.

“Anak-anak!,”seru Pak Gito kemudian kepada murid-muridnya.

“Ya, Pak!”sahut teman Wati serempak.

“Untuk mencarikan kalung Wati yang hilang. Sebaiknya, mari kita ke lapangan!”

“Mari,Pak! Mari…….!”teman-teman Wati setuju.

Maka, pergilah Pak Gito dan murid-muridnya ke lapangan yang berada di belakang gedung sekolah. Rupanya benar. Tidak berapa lama anak-anak itu mencari benda yang dimaksud. Salah seorang di antara mereka telah berhasil menemukan barang berharga milik Wati.

“Ini, Pak…..! Ini kalung milik Wati, Pak…..!” Raharjo demikian nama anak yang menemukan benda tersebut. Ia berseru seraya di tangan kanannya menggenggam seuntai kalung emas. Anak lelaki berseragam putih merah tadi lari-lari kegirangan mendapatkan Pak Gito.

“Mana?”pinta Pak Gito seraya menerima benda kekuningan dari tangan Raharjo. Lebih lanjut Pak Gito bertanya,”Benarkah ini kalung emas milikmu, Wati?”
Untuk sesaat Wati mengamat-amati benda kekuningan yang ada di tangan Pak Gito.

“Coba, Pak?”tanyanya penuh selidik.

“Benarkah ini kalung milikmu?”sekali lagi Pak Gito menunjukkan benda kuning yang ada di tangannya.

“Iya. Benar, Pak,”ujar Wati lirih seraya mengangguk.

“Benar?”tanya Pak Gito minta keyakinan. Wati mengangguk mantap.

“Kalau benar,”ucap Pak Gito di tengah-tengah kerumunan muridnya. “Coba, kalian dengarkan semua, Anak-anak!”
Semua muridnya memasang telinga baik-baik.

“Anak-anak,” kata Pak Gito selanjutnya.

“Ya, Pak……!”sahut salah seorang anak di antara mereka.

“Kalian masih bersekolah bukan?”

“Masih, Pak!”sahut Raharjo mewakili teman-temannya.

“Baru duduk di SD dan masih kelas 5, bukan?”

“Iya, Pak….!”sahut anak-anak serempak.

“Nah! Karena kalian baru duduk di kelas 5 SD,”sahut Pak Gito. “Berarti kalian masih tergolong anak-anak. Masih terlalu muda untuk berdandan seperti orang dewasa,”Pak Gito diam sejenak. Pandangannya diedarkan ke semua wajah muridnya. Tak terkecuali Wati. “Karena kalian belum dewasa,”sambung Pak Gito tak lama dari itu. “Sebaiknya kalian tidak usah mengenakan segala macam perhiasan yang hanya pantas dikenakan oleh orang-orang dewasa.”

“Perhiasan apa saja misalnya, Pak?”sela Ardhana ingin tahu.

“Misalnya,”sahut Pak Guru muda yang berkumis tipis itu seraya tersenyum. “Kalung, gelang, anting-anting, cincin, maupun yang lainnya.”

“Kenapa sebabnya, Pak?”potong Rina ingin tahu alasan Pak Gito.

“Sebab, berbagai macam perhiasan tadi bisa mengundang malapetaka bagi anak-anak yang belum dewasa seperti kalian.”

“Maksud, Pak Guru?”potong Irfan dengan cepat.

“Maksud Bapak,”demikian Pak Gito bicara. “Para penodong, penjambret, penipu, akan merasa senang bila melihat calon mangsanya masih anak-anak,”sambungnya. “Terlebih lagi bila calon mangsanya mengenakan perhiasan yang berlebihan. Ini jelas akan

“Ya, kami paham,Pak….!”sahut anak-anak serempak.

“Nah, syukurlah kalau begitu!”sahut Pak Gito cepat. “Jadi, selain anting-anting, untuk bersekolah kalian tidak usah mengenakan kalung terlebih dahulu ya, Anak-anak!”

“Sampai kapan, Pak?”

“Sampai kalian lulus dari SD. Sampai usia kalian cukup remaja. Paham?”

“Paham, Pak…!”

“Nah, kalau demikian, mari kita kembali ke sekolah!”ajak PakGito sembari menyerahkan seuntai kalung emas yang ada di tagannya kepada Wati.***




1 Response so far:

Sea Heaven mengatakan...

wah iya tuh. kalo masih kecil lebih baik nggak pakai perhiasan sama sekali seperti kalung emas, gelang emas, maupun perhiasan anting dll. bahaya.

Leave a Reply